Antara idealisme dan Realita, Kamu Harus...

Emas

Kehidupan memang selalu berubah. Terkadang yang kita rasakan sekarang susah, namun sebelumnya dirasa hidup kita senang, atau sebaliknya.

Sekedar pengalaman pribadi, entah yang saya ceritakan ini berkaitan dengan ini langsung atau enggak. Yaitu, tentang keputusan untuk memilih jurusan kuliah. 

Saat itu, pilihan utama saya adalah S2 Teknik Elektro, dimana cita-cita saya saat itu ingin punya kontribusi terhadap permasalahn dunia tentang energi.

Keinginan untuk masuk dunia Renewable Energy, adalah pilihan utama saat itu. Membaca banyak tulisan tentang energy dan keresahan yang betul-betul dirasakan pada saya saat itu.

Namun, seketika itu berubah. Ketika ada beberapa pihak "ekternal" yang "menginterupsi" jalan pikiran saya. Kegalauan demi kegalauan dirasakan. Bahkan sempet marah dalam hati kepada orang-orang yang dengan sengaja "mengarahkan" pikiran saya.

Mungkin juga ada yang pernah mengalaminya, mungkin konteksnya lain. Saya yakin itu.

Setelah diskusi dengan banyak pihak (dengan pikiran yang masih "amburadul"), pada akhirnya saya memutuskan untuk memilih "jalan lain".

"Padahal saya yang kuliah", "Padahal yang ngebiayaain, saya sendiri. Pake duit, duit sendiri!", "Kok, ngatur-ngatur cita-cita gue". Itu semua adalah "kepenatan" saya yang terus berkecamuk.

Seketika ini berubah disaat saya merenungi kata-kata, "Jangan Egois". Ya, betul egois.

Singkat cerita, pada akhirnya saya tetap kuliah S2, namun dengan memilih bidang studi yang lain. 

Idealnya saya tetap melanjutkan pilihan awal, namun realitanya, ada segelintir orang yang memandang saya seharusnya bukan itu pilihannya, namun yang lain.

Opini saya, ternyata Idealisme itu adalah Realita. Realita adalah idealismemu. Tergantung memandang dengan perspektif yang seperti apa. 

Belum tentu idealisme itu adalah idealisme yang sesungguhnya, bisa jadi "pengalaman" mu adalah yang mengarahkan idealisme itu. Kadang juga "orang lain" juga perlu di "dengar", walaupun keputusan tetap di anda.

Ini bukan soal teguh pendirian, kalau dilihat dari perspektif keteguhan, jelas kalau saya mudah goyah. Tapi bukan hal itu, tapi soal "realita" yang harus diamati. Ketika sudah cukup dengan keputusan tersebut, maka istikhrohlah.

Antara realita saat ini dengan realita yang lain, maka sikapilah dengan positif thinking dan bijak.

No comments:

Post a Comment

 

Dibuat oleh Fahmi Muhammad

© 2014-2020 Home | About | Privacy